latest Post

Wahai Para Suami, Bijaklah Menyikapi Kekurangan Istri

Menyikapi kekurangan istri

"Suamiku sering menyebut-nyebut kelebihan wanita lain di depanku. Seolah-olah dia menyesal menikah denganku...", ujar seorang ibu. Tampak kesedihan terpancar dari wajahnya. Kedua matanya pun berkaca-kaca.

Memang, ada kalanya seorang suami tidak puas dengan keadaan istrinya. Ia selalu mengingat kekurangan istrinya dan membandingkannya dengan wanita lain. Boleh jadi kekurangan istri dirasa cukup berat bagi suami, akan tetapi dalam waktu yang sama, sang istri sesungguhnya juga memiliki banyak kelebihan atau keistimewaan, dan banyak sifat yang terpuji.

Ini semua menuntut sang suami untuk perlahan-lahan dan berhati-hati di dalam mengambil sikap. Jangan sampai ia menilai dan meghukum istrinya hanya melalui aib-aibnya saja. Akan tetapi, ia harus melihat kebaikan dan keburukannya, serta kelebihan dan kekurangannya secara proporsional. Janganlah ia memberikan keputusan berdasarkan satu sudut pandang saja. Janganlah ia membenci istri karena satu perilaku yang menjadi bagian dari tabiatnya.

Allah berfirman:

"Dan bergaullah dengan mereka secara patut, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahalAllah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS. An-Nisa': 19)

Oleh karena itu, janganlah seorang suami membenci istrinya karena perilaku tertentu. Sekali-kali jangan! Nabi bersabda, "Janganlah seorang mukmin itu membenci seorang mukminah. Jika ia benci kepada satu perilaku, niscaya ia akan puas dengan perilaku yang lainnya." (HR. Muslim)

Hendaklah sang suami itu sadar, bahwa ia tidak akan mendapatkan seorang istri yang bebas dari kekurangan. Boleh jadi istrinya itu, dengan segala kekurangan yang ada, tetap lebih baik daripada sekian banyak wanita lainnya. Mungkin saja wanita lain terlihat baik karena kita belum melihat kekurangan atau aibnya.

Jika Anda ingin lebih mengenal istri Anda, ambillah kertas dan pena, dan tulislah kelebihan-kelebihan istri Anda dan kekurangan-kekurangannya. Tentu Anda akan melihat bahwa kelebihannya jauh lebih banyak daripada kekurangannya.

Ketahuilah, bahwa dalam kehidupan rumah tangga ini tidak memungkinkan bagi Anda untuk mendapatkan seorang istri yang seratus persen sesuai dengan kriteria yang Anda inginkan. Sudah tentu terdapat perbedaan karakter, dan sudah tentu pula bahwa Anda akan melihat sesuatu yang membuat Anda kagum dan sesuatu yang membuat Anda tidak senang.

Ketahuilah wahai para suami, istri Anda tidak dan tidak akan seratus persen sebagaimana yang Anda inginkan. Sebab, ia menerima pendidikan, pengasuhan, dan pengalaman yang berbeda dengan pendidikan, pengasuhan, dan pengalaman yang Anda dapatkan, serta memiliki tabiat yang berbeda dengan tabiat yang ada pada diri Anda.

Terkadang ia memiliki kesamaan dengan Anda dalam beberapa hal, namun pasti ada perbedaan dalam hal lainnya. Oleh karena itu, terimalah kenyataan ini. Janganlah Anda melawan kehidupan dan hendak mengalahkan tabiat yang sudah mengakar, karena tidak mudah mengubahnya. Sekalipun hal itu mungkin, akan tetapi jelas memerlukan waktu yang cukup panjang, kesabaran yang mendalam, latihan secara terus-menerus, nafas yang panjang, dan jiwa yang tabah.

Selain kurang bersabar terhadap kekurangan istri, kadang para suami suka melecehkan akal istrinya dan cara dia dalam berpikir. Suami yang melakukan hal seperti ini sebenarnya hanya menciptakan keletihan, dan merusak kebahagiaan berumah tangga. Demikian juga, ia adalah seorang suami yang tidak pantas mendapatkan penghormatan dari istrinya, karena yang namanya penghormatan itu adalah sesuatu yang bersifat timbal balik. Sepanjang Anda tidak menghormati orang lain, maka orang tersebut tidak akan menghormati Anda, kecuali jika Anda mau hormat kepadanya.

Seorang istri yang merasakan bahwa suaminya melakukan hal seperti ini, yaitu pelecehan terhadap akalnya dan caranya dalam berpikir, maka istri tersebut tidak akan memberikan cintanya kepada sang suami.

Ada persoalan yang dipahami secara keliru oleh kaum laki-laki. Yaitu bahwa mereka menganggap akal wanita itu lemah dan kurang cerdas, serta cara berpikirnya bengkok, kurang lurus. Dan bahwa ia tidak mungkin memiliki pendapat yang lurus. Pendapat dan anggapan seperti ini sama sekali tidak ada dasarnya, dan jelas tidak benar.

Sumbernya adalah pemahaman yang keliru mengenai beberapa hadits yang berbicara mengenai masalah ini. Misalnya adalah hadits yang menyebutkan bahwa mereka adalah “Orang-orang yang kurang akal dan agamanya.” Redaksi hadits seperti ini dipahami secara keliru oleh sebagian orang.

Mereka memahami bahwa kurangnya akal di sini adalah kurangnya kecerdasan atau kebengkokan dalam berpikir. Ini jelas keliru. Yang dimaksudkan di sini adalah sifat lupanya kaum wanita lebih banyak daripada lelaki. Hal itu disebabkan karena ada banyak hal yang dialami oleh kaum wanita yang membuatnya mudah lupa, terlebih dalam kehidupan umum, dimana ia tidak bisa seleluasa kaum lelaki.

Dalil mengenai hal itu ialah bahwa Nabi ketika ditanya oleh kaum wanita, “Apakah kekurangan akal dan agama kami, wahai Rasulullah?”

Maka beliau menjawab, “Bukankah kesaksian wanita itu adalah separuh dari kesaksian laki-laki?”

Kami menjawab, “Ya benar.”

Nabi bersabda, “Itulah bentuk kekurangan akalnya.”

Nabi bertanya lagi, “Bukankah jika sedang haid, ia tidak mengerjakan shalat dan juga tidak berpuasa?”

Kami menjawab, “Ya benar.”

Nabi menjawab, “Itulah bentuk kekurangan agamanya.”

Dengan demikian, kekurangan yang disebutkan dalam hadits tersebut memiliki makna sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas. Demikian juga halnya dengan kekurangan agamanya. Ia tidak berarti kekurangan mengenai hakikat agamanya, akan tetapi kekurangan itu terdapat pada sebagian pelaksanaan ibadah karena adanya udzur yang diperkenankan.

Dalam keadaan ada udzur syar'i (dalam hal ini menstruasi), seorang wanita tidaklah dihukum karena meninggalkan ibadah. Bahkan ia justru diharamkan untuk mengerjakannya. Wanita yang sedang haid diharamkan mengerjakan shalat dan puasa. Jika ketika itu ia mengerjakan shalat dan puasa, tentu ia berdosa, sekalipun ia berkewajiban menqadha’ puasa, namun ia tidak perlu mengqadha’ shalat, sebagai bentuk rukhsah (keringanan) dari Allah .

Akal wanita adalah akal yang harus dihormati. Ada sebagian wanita yang memiliki keistimewaan berupa kecerdasan akal yang lebih hebat dibanding akal kaum laki-laki. Contoh untuk hal ini sangatlah banyak, dan bukanlah di sini tempatnya untuk menyebutkannya. Namun, bagaimanapun juga, kecerdasan akal wanita dijadikan oleh Allah dengan garis yang berbeda dengan garis kecerdasan laki-laki. Ia merupakan kecerdasan jenis khusus. Oleh karena itu, ia memiliki perhatian-perhatian khusus. Itu merupakan hikmah agung yang hanya diketahui oleh Allah.

Boleh jadi hal itu dijadikan untuk memperkaya kehidupan, sehingga kehidupan ini menjadi lebih bervariasi, dan agar laki-laki tidak berkuasa dengan akalnya saja, akan wanita yang lebih dominan dengan perasaan itu juga memberikan makna lain bagi kehidupan.

Adapun jika seorang lelaki mendapatkan istri yang memang kurang cerdas, tetap saja tidak ada alasan baginya untuk menyebutkan hal itu di hadapannya, atau selalu membodoh-bodohkan pendapatnya, sehingga melukai harga diri sang istri. Ia harus sabar menerima segala kekurangannya, sepanjang ia menjadi istrinya. Adalah tidak adil jika seorang suami menuntut istri dengan sesuatu yang memang tidak dimiliki olehnya.

Yang tak kalah penting lagi adalah melibatkan istri dalam urusan rumah tangga. Yaitu dalam hal berpikir dan merencanakan tentang suatu hal, serta bermusyawarah dengannya. Banyak kaum lelaki yang masih berpikiran bahwa bermusyawarah dengan wanita hanya akan merobohkan rumah tangga hanya buang-buang waktu. Bisa jadi hal ini ada benarnya, akan tetapi, bisa jadi jika istri diajak bermusyawarah, maka akal pikiran atau pendapatnya akan bisa memberikan sudut pandang lain, atau bahkan dapat memecahkan sekian banyak masalah yang dihadapi suami.

Rasulullah Muhammad SAW saja tidak segan untuk meminta pendapat istrinya. Jadi, jangan segan untuk mencontoh Rasulullah dalam masalah ini. Setuju?

Sumber: Majalah Fatawa, Vol.IV

Recommended Posts × +

0 comments:

Post a Comment